Sebuah Renungan tentang Umat : Meluruskan Konsepsi Bid’ah

Awal, Sebuah Pengakuan

Saya mungkin bukan manusia yang faqih seperti faqihnya para ulama masa lalu yang telah menulis tinta emas peradaban Islam. Tetapi saya mencoba menggali apa yang pernah disampaikan oleh para ulama-ulama salaf mengenai fenomena-fenomena masa itu tetapi menjadi fenomena modern.

Dan hal ini saya rasa sangat penting untuk disampaikan kepada masyarakat. Dan apa yang saya sampaikan disini hanyalah mengulangi dengan ringkas apa yang pernah disampaikan ulama-ulama besar tempo dahulu ditambah dengan sedikit bumbu-bumbu modernitas kontekstual. Semoga bisa menikmatinya. Tujuan tulisan ini adalah untuk memberi perspektif lain dalam memandang bid’ah, perspektif yang dimiliki oleh jumhur ulama di masa keemasan Islam saat itu.

Hamasah dan Hikmah Umat

Hamasah adalah satu keadaan semangat yang identik dengan sikap, perilaku, yang berapi-api, dan cenderung aktif-reaktif akan sebuah kejadian. Sedang hikmah adalah satu sikap yang penuh dengan pendalaman suatu perkara dalam hati dan fikiran, menjadi kebijaksanaan atas apa yang terjadi dan apa yang menjadi idealita atau keyakinan, memikirkannya secara matang, dan menyingkapkan sesuatu yang tersembunyi untuk diambil pelajaran.

Semangat para pemuda (Hamasah-Syabab) dan hikmahnya para orang tua (Hikmah-Syuyukh) adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam menjalani sebuah pergerakan agar bisa mencapai prestasi yang baik. Tetapi dua hal itu bisa juga kita pakai dalam menerangkan fenomena kekinian umat Islam yang nyata-nyata mulai berpisah antara hamasah-ummat dengan hikmah-ummat atas agama Islam sendiri.

Mengapa dikatakan saat ini hamasah-ummat terpisah dari hikmah-ummat ? Fenomena keummatan modern yang terlihat di alam nyata menunjukkan realitas itu. Yang paling terlihat adalah sekelompok muslim yang mudah membid’ahkan bahkan mengkafirkan muslim lainnya.

Bahaya Laten

Mereka yang cenderung suka membid’ahkan dan mengkafirkan muslim lainnya saat ini menjadi ancaman yang cukup serius. Banyaknya tulisan-tulisan mereka di media sosial dan dibaca oleh kawula muda yang sedang semangat-semangatnya mencari ilmu agama tetapi tidak dibawah naungan guru dan tidak dilandasi dengan landasan yang tepat akan membuat kekacauan berfikir yang viral.

Tabdi’ dan takfir muslim pada muslim lainnya mempunyai tiga efek yang merugikan. Pertama adalah mengacaukan persatuan dan barisan umat islam. Kedua adalah menghilangkan khazanah dan sebagian Ilmu Islam sendiri. Ketiga adalah memperburuk citra Islam di mata penganut agama lain.

Sebuah Pengantar

Umat Islam disatukan dengan sumber utama agama yang sama, yaitu Quran dan Sunnah. Tapi dalam memahami istilah di dalamnya, umat ini tidak selamanya sepakat, apalagi dalam kaitannya dengan dhoniyyuddilalah (sebuah dalil yang dhonni artinya tidak baku, alias mengandung ikhtilaf ulama).

Di tengah masyarakat muncul fenomena dan kelompok yang menjadikan hal-hal yang dhonniyyuddilalah seakan-akan qothiyuddilalah-dalil (dalil yang maknanya sudah pasti). Kemudian mereka memastikan maknanya dan menganggap siapapun yang bertentangan dengannya adalah salah (dholal dan bathil), dan mereka yang sepakat dengannya adalah benar (haq).

Bid’ah adalah salah satu istilah dalam syariat Islam yang disikapi oleh satu kelompok tertentu seakan-akan qoth’iyud dilalah, padahal sebenarnya adalah dhoniyyuddilalah. Hal tersebut akhirnya menimbulkan kekacauan di masyarakat. Tradisi tertentu yang sudah lama dilakukan dengan mudah dibidahkan berdasarkan pemahaman kelompoknya. Dari sinilah muncul perpecahan.

Keadaan menjadi lebih buruk karena umat muslim tidak terbiasa dengan tradisi keilmiahan yang baik. Ketika pembid’ahan dilakukan berdasar hadis tertentu, kita tidak lantas melakukan penelitian dengan baik.

Apakah memang bid’ah dengan pemahaman kelompok tertentu adalah satu-satunya pemahaman yang absolut? Apakah itu adalah ijma’ ulama ? Adakah perbedaan pendapat ulama dalam konsep bid’ah? Apakah hadis-hadis terkait bidah hanya mempunyai satu makna saja, sehingga tidak ada makna lain? Apakah pemahaman tersebut menurut ahli hadis? Adakah perbedaan dalam memahami hadis-hadis tersebut?

Renungan dari Kisah Terdahulu

Kisah Pertama, Kisah sahabat yang berbeda pendapat dalam memaknai sabda Rosulullah SAW, “Jangan ada yang sholat ashar kecuali di Bani Quroidhoh”.

Kisah Kedua, Bilal selalu berwudhu setiap kali beliau batal wudhu, padahal ini adalah hasil dari ijtihad beliau sendiri, dan tidak ada sunnah dari Rosululloh dalam hal tersebut. Maka saat Rosululullah SAW tahu, beliau kemudian mendoakannya.

Kisah Ketiga, Khubaib bin ‘Adi shalat dua rakaat sebelum dibunuh. Hal baru ini menjadi sunnah bagi setiap muslim meski tidak ada nash dari Rosululloh SAW.

Kisah Keempat, seorang sahabat Anshor di masjid Quba yang mengimami sahabat lainnya dan selalu mengawali bacaan surat dalam sholatnya dengan Al Ikhlas. Lalu Rosulullah SAW tahu dan Beliau kemudian mendoakannya.

Kisah Kelima, sahabat yang selalu membaca Al Ikhlas dalam setiap rokaatnya.

Kisah Keenam, Munajat dari seorang sahabat kepada Alloh dengan doa yang belum didengar dari Rosululloh SAW.

Kisah ketujuh, sahabat yang menambah lafal dzikir setelah ia bangun ruku’ di belakang Rosululloh SAW, dan kemudian Beliau mengabarkan berita baik kepadaNya.

Kisah Kedelapan, Abu Sa’id Al Khudri yang mengobati kepala kaum yang tergigit ular dengan Fatihah, padahal tidak ada petunjuk rosulullah SAW tentang hal tersebut.

Kisah kesembilan, Kholifah Umar yang mengumpulkan manusia untuk sholat terawih dalam satu imam.

Kisah kesepuluh, beberapa sahabat dan tabiin yang mengumandangkan takbir dengan suara keras pada hari idul Adha dan 10 hari bulan Dhulhijjah hingga seluruh orang ikut.

Kisah kesebelas, sebagian sahabat menambahkan beberapa kata dalam bacaan talbiyah yang diucapkan Rosulullah SAW, termasuk penambahan bacaan tasyahud oleh Ibnu Umar dan Ibnu Mas’ud. Dan kisah-kisah lainnya.

Membedah Kembali untuk Belajar

Berikut ini saya sajikan secara ringkas poin-poin yang perlu kita renungkan dan pelajari kembali :

1. Sungguh konsep bid’ah yang selama ini kita dengar adalah hanya satu dari tidak konsep bid’ah yang ada dalam keilmuan Islam. Ada tiga kelompok dalam memaknai bid’ah, tetapi saya hanya akan menampilkan dua, karena yang ketiga secara esensi hampir sama dengan salah satunya.

a. Kelompok yang berpandangan luas dalam memaknai bid’ah (Muwasi’in)

Kelompok ini berpendapat bahwa hal yang baru dalam agama mempunyai hukumnya masing-masing. Dalil yang paling jelas adalah pengamatan terhadap cara rosul dan sahabat dalam menyikapi amalan baru.

Kelompok ini melihat amalan baru case by case, dan bid’ah dihukumi dengan lima hukum yaitu: wajib, sunnah, makruh, haram, dan mubah. Cara menghukuminya dengan kaidah syariat. Ulama-ulama di pihak ini: Ibnul Atsir, ‘Izz bin Abdissalam, Al-Qurofi, Abu Syamah Al Maqdisi, Imam Nawawi, Ibnu Hajar Al Astqolani, Ibnu Rojab, Abul Abas An-Nafrowi, Ibnu Abidin dan lainnya. Imam Nawawi, penyusun kitab Riyadhussolihin dan Adzkar ada disini.

b. Kelompok yang berpandangan sempit dalam memaknai bid’ah (Mudhoyyiqin)

Kelompok ini hanya punya satu hukum terhadap amalan baru, yaitu haram. Ulama yang di kelompok ini: Ibnul Jauzi, Asy-Syaukani, Shiddiq Hasan Khan, dan lainnya. Dalam memahami hadist: Wasyarrol umuuri muhdasatuha….. , lalu Man Ahdatsa fi Amrina.. Man Amila ‘Amalan…. Dan hadis mengenai bid’ah lainnya para ulama berbeda pendapat. Dan ini sangat mempengaruhi makna bid’ah yang mereka yakini.

Mereka yang melihat bid’ah dengan pandangan yang sempit akan cenderung melihat secara letter lejk. Misalkan ketika ada dzikir/wirid setelah sholat dan itu bersama-sama dan dengan suara keras, maka kelompok mudhoyyiqin akan melihat itu sebagai bid’ah. Beda dengan kelompok Muwassi’in yang jika melihat fenomena seperti diatas misalnya, akan memandang bahwa jika ada satu nash yang secara umum menyuruh tentang dzikir/wirid, maka nash itu sudah cukup mencakup wirid diatas. Sehingga kesimpulannya wirid berjamaah diatas tidak bid’ah. Pemahaman seperti ini salah satunya oleh Imam Nawawi, sang penyusun Riyadhus Sholihin dan Adzkar Nawawi.

2. Kaidah “At-Tarku Yaqtadhit Tahrim” (meninggalkan sesuatu berarti mengharamkannya). Mereka sering menggunakan kaidah “Lau kaana khoiron lasabaquuna ilaihi“, Kalau itu baik maka mereka akan mendahului kita melakukannya. Dan dengan kaidah: jika Rasululloh SAW tidak melakukannya maka itu berarti haram.

Tidak ada satu kitab usul fiqihpun yang usulnya adalah seperti diatas. Yang ada adalah An-Nahyu Yatadhit Tahrim. Kalimat larangan menunjukkan pelarangan. Itupun masih ada pembahasan lain terkait hal-hal yang membuat dalil menunjukkan makruh.

Dalam hal Rosulullah SAW tidak melakukan suatu hal maka maknanya seperti apa, sudah dibahas dengan detail dalam kitab Mafhumul Bid’ah, dengan kesimpulan bahwa kaidah “at-tarku” tidaklah tepat.

3. Masalah bid’ah tidak selamanya antara haq dan bathil, bahkan sebagian besar adalah masalah ijtihadiyah yang berputar antara khoto’ dan showab (tepat dan tidak tepat). Banyak sekali kesimpangsiuran dan kekacauan berfikir para pelaku pembid’ahan. Mereka mencampuradukkan antara terminologi haq-bathil dan showab-khoto’. Benar-Salah dan Tepat-Tidak Tepat.

Dalam masalah fiqih, perbedaan pendapat dan khilafiyah tidak dibawa dalam satu konsepsi fiqih yang ada tasamuh (bertoleransi) tetapi dibawa dalam term haq-bathil, sunnah dan bid’ah. Contohlah misalnya dalam satu kitab mereka yaitu Sifat Sholat Nabi. Banyak term-term yang dibawa ke term sunnah-bid’ah alias haq-bathil. Padahal membawa khilafiyah fikih dalam term sunnah-bid’ah adalah tidak tepat dan tidak berdasar sama sekali. Karena masing-masing ahli fiqih memegang riwayatnya masing-masing dan terverifikasi para muhaddisin masing-masing.

Dalam masalah hadist, terlihat ada satu missing items dalam konsep mustholah hadist mereka. Jika mereka melihat amalan yang mereka nilai hadistnya dhoif versi mereka maka amalan itu akan dianggap sebagai amalan bid’ah. Dan muslim lain yang mengamalkan isi hadist yang mereka anggap dhoif maka akan dicap sebagai pelaku bid’ah. Padahal, dalam ilmu hadist, muhadditsin satu dengan yang lainnya seringkali berbeda dalam menetapkan derajat suatu hadist. Kadang ada satu ahli hadist yang menyatakan bahwa hadist ini shohih, tetapi puluhan lainnya menyatakan itu dhoif. Dan sebalikanya pun beserta segala macam variannya.

Dalam menilai suatu hadist dhoif, banyak perbedaan pendapat. Ada kelompok yang boleh mengambil hadist dhoif (bukan maudhu’) untuk menetapkan hukum dan amalan. Ada kelompok lainnya yang membolehkan mengambil hadist dhoif untuk fodhoilul ‘amal (mengutamakan amal tertentu), tetapi tidak untuk menetapkan hukum. Ada kelompok lainnya lagi yang membolehkan mengambil hadist dhoif asal dhoifnya tidak keterlaluan. Dan ada kelompok yang sama sekali menolak hadist dhoif. Dari titik ini saja sudah ada perbedaan yang begitu luar biasa. Dari metode istimbath (pengambilan dalil) itu sendiri. Maka tidak bisa hal-hal diatas dibawa ke dalam konsepsi sunnah-bid’ah.

“Hadisnya shohih tidak?”, adalah pertanyaan khas yang sering muncul dalam masalah ini. Maka belajar mengenai ulumul hadist adalah sebuah kewajiban sebelum kita berkesimpulan dari membaca buku/mendengar ustadz yang menyerukan tentang “jangan memakai hadist yang tidak shohih maupun hasan” dan mengikutinya. Karena sungguh jumhur ulama sudah menegaskan tentang hal ini.

4. Menyalahi Fiqih Dakwah

Lantas kalaupun apa yang disampaikan mereka sesungguhnya benar (meski belum benar), maka cara-cara seperti itu jauh diluar fiqih dakwah yang dicontohkan oleh Nabi pun oleh Hasan dan Husain. Nabi Muhammad mempunyai sebuah ruhudda’wah. Ruh dakwah, hikmah itu sendiri disamping semangat. Tatkala beliau ke Thoif apa yang dilakukan masyarakat yang menolaknya? Apa doa Nabi? Tatkalah Hasan dan Husein melihat ada seseorang yang wudhunya kacau balau, apa yang dilakukan mereka? Mereka bersandiwara, yang satu menjadi seseorang yang berlagak wudhunya acak adut, dan satunya berakting memberi nasihat kepadanya. Maka orang tadi pun memperhatikan tingkah laku kedua anak ini, dan jadilah tau akan cara wudhu yang benar. Itulah hikmah-ummat.

Lantas kita belajar dari Walisongo. Apa yang mereka lakukan ketika masuk ke tanah jawa yang dipenuhi dengan tradisi Hindu Budha yang benar-benar jauh dari Islam? Apakah mengkafirkan dan membid’ahkan? Bahkan mereka sanggup membuat wayang yang penuh dengan filososfi Hindu menjadi suatu media perantara/wasilah dalam mengislamkan. Itulah ruhhud dakwah.

Jika fiqih dakwah yang merupakan perpaduan antara hamasah-ummat dan hikmah-ummat itu ada, maka yakinlah tidak akan ada perpecahan ummat sebagai efeknya.

5. Hilangnya Khazanah Ummat

Ilmu dan khazanah Islam juga tidak akan hilang jika hikmah-ummat ada, contoh yang paling sederhana adalah dalam azan dan iqomah saat bayi lahir. Seorang syeikh yang belajar hadist otodidak menulis tentang bida’hnya azan dan iqomah kepada bayi yang lahir dengan alasan karena karena hadistnya dhoif. Tulisan itu pun tersebar kemana-mana diteruskan oleh murid-muridnya. Dan akhirnya sampai di Indonesia. Tulisan itu banyak menghiasi web para pencari ilmu yang punya hamasah-tetapi minim hikmah. Padahal banyak sekali ulama salaf maupun kholaf yang menyunahkannya. Hal ini adalah sebagian dari ikhtilaf fiqih. Ada yang mensyariatkannya, dan ada yang tidak. Tetapi jumhur ulama mensyariatkannya. Dan mereka tidak pernah membawa ini dalam term sunnah-bid’ah. Tetapi dengan adanya ulama yang membawa ini ke term haq-bathil, maka jadilah sebagian ilmu islam dan khazanah ini menjadi hilang. Dan banyak lagi contoh yang lainnya.

Begitu fatalnya sikap mudah membid’ahkan ini. Dan parahnya mereka suka melakukan hal ini, menganggapnya terpuji. Hikmah yang seharusnya dimiliki oleh umat Islam juga belum tersebar di sebagian besar umat Islam. Ilmu tentang peradaban, keseimbangan ilmu din dan ilmu scientific dan humaniora belum menyebar ke area-area inti umat Islam. Fiqih sunnah (sunnah kauniyah dan qouliyah), fiqih ikhtilaf, fiqih dakwah, fiqih awlawiyat, fiqih muwazanah, fiqih tamkin, dan lainnya belum menjadi sajian sehari-hari. Maka jauhlah konsepsi Islam tanpa ruh ketinggian peradabannya. Ritual tanpa maqosid-nya. Banyak yang berhaji tanpa menyadari tanggung jawab sosialnya. Mendongeng kisah Nabi tanpa mengambil inti dan hikmah pelajarannya. Puasa tanpa kepekaan sosialnya. Hamasah tanpa hikmah.

Saat hal tersebut terjadi, ternyata ada yang memperparah dengan satu konsepsi bid’ah yang tidak dalam koridor hikmah. Maka apa yang harus kita lakukan? Carilah ilmu, belajarlah kepada Guru yang mampu membimbing kita untuk mendapatkan hamasah dan juga hikmah. Belajarlah dari Guru, bukan dari Buku. Buku dan semua sumber boleh jadi tambahan materi, tapi jangan jadi dasar atas materi-materi yang kita pelajari.

Jika membaca sesuatu di buku/dari sumber apapun itu, maka janganlah menjadi seperti di buku itu sampai benar-benar tahu dan memahami apa sebenarnya yang dibahas di buku itu dan menimbangnya dengan pengetahuan dasar yang telah kita yakini kebenarannya pun dengan menimbang dalam sehat dan sadarnya akal kita. Pramudya Ananta Toer pernah mencontohkan dan menyatakan agar tidak menjadi merah meski membaca buku merah, dan menjadi hijau ketika membaca buku hijau. Meski Pram membaca beratus-ratus referensi asli Arab, tapi tidak juga hengkang dari ideologi merah.

Demikian kulsap singkat ini. Kulsap ini hanyalah sebagai coretan kegalauan atas ummat ini. Bisa salah, bisa benar. Tetapi satu pesan yang harus diingat adalah jika Alloh anugerahkan sebuah hikmah, maka itu adalah karunia yang besar. Waman yu’til hikmah, faqod uutiya khoiron katsiro. Dan jangan mengikuti langkah-langkah mereka yang akan memecah Islam itu sendiri. Kalau belum mempunyai cukup ilmu untuk satu hal, maka diam atas hal tersebut adalah lebih baik. Diam dalam mengomentarinya. Bukan diam untuk bertanya pada ahlinya.

Semoga Alloh bukakan taufiq kepada kita untuk bisa melihat apa yang terjadi pada masa lalu dalam hal bahasan ulama mengenai bid’ah, dan melihat betapa generasi salaf sangat bijak dalam mencerna masalah bid’ah ini. Amien.

(Ikhsanudin, Al Faqir Ilallah)

Manajemen Afwan

Akhirnya sampai…

Saya berjalan menuju lorong masjid itu dengan langkah cepat, menutup payung yang basah, meletakkannya di pilar lalu berusaha mengurangi air di ujung rok yang basah.  Perjalanan dari kost ke masjid ini memang membutuhkan waktu tiga puluh menit, hujan deras selama perjalanan membuat bagian bawah pakaian jadi basah kuyup. Tak lama, saya sudah menyusuri lorong tersebut menuju tempat rapat sesuai dengan yang dijanjikan.

Saya sampai.

Tempat itu kosong…

***

Di sebuah kafe yang terletak di lantai dua sebuah toko buku

“Kali ini Saya harap anda bisa menyelesaikannya tepat waktu. Kejadian kemarin tidak boleh terulang lagi” ucap laki-laki bule di hadapan saya.

“Baik, Pak”.

Sudah dua bulanan saya ikut sebuah LSM multinasional ini, bukan sebuah LSM besar bahkan cenderung dadakan tapi berhasil mendapatkan bantuan dari pihak asing. Seorang kenalan menawarkan untuk ikut LSM tersebut dan dengan berbagai pertimbangan saya menyetujuinya. Keikutsertaan saya pun hanya sementara, selama erupsi merapi melanda Jogjakarta.

Jadwal ketat dan deadline-deadline merupakan tantangan terberat dalam area ini, namun karena semua orang tampak bisa mengikuti ritme kerja maka saya pun berusaha sekuat tenaga. Saya berada di tim persiapan pasca bencana. Ide-ide fresh dan sesuai selalu menjadi tuntutan. Tidak siap ?, maka alamat “dibantai” ketika rapat dua mingguan. Rapat ini pun serasa luar biasa, bayangkan saja, saya sudah termasuk terlambat padahal datang sepuluh menit sebelum acara. Setiap tim sudah siap dengan presentasi masing-masing, beberapa yang berada di posko, siap dengan gambar, data pengungsi dan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan, termasuk perencanaan kegiatan di posko. Oleh karena itu, tim saya harus bisa membaca segala kemungkinan sebelum rapat sehingga ada solusi di setiap masalah yang disodorkan oleh tim lapangan.

Hal ini sempat membuat saya jengah, dua kali tim saya “dibantai” di rapat dua mingguan. Ternyata dengan usaha itu pun saya tidak mampu mengejar ketertinggalan. Perbedaan bahasa, ilmu dan pemahaman situasi, merupakan faktor lain yang mempengaruhi. Sehingga pada akhirnya laporan akhir yang harusnya diberikan seminggu yang lalu baru dapat diberikan hari ini dan ternyata masih harus di revisi. Disinilah saya, dimarahi di tempat umum oleh seorang bapak-bapak bule yang aksennya membuat saya bingung.

***

Di sebuah masjid tidak jauh dari kampus

Saya dan seorang teman sedang menunggu, sudah lewat setengah jam dari waktu yang dijanjikan, teman saya pun sudah mengingatkan bahwa kita tidak bisa lama-lama, baik dia maupun saya harus kembali ke sekolah untuk pelajaran ekstrakurikuler yang jadi pekerjaan paruh waktu kami.

 Pada akhir  masa kuliah, saya mendapatkan tawaran untuk membantu tim community development karena tidak terlalu sibuk maka saya mengiyakan. Hari ini merupakan  pertemuan ketiga. Awal pertemuan tidak beda dari hari ini rapat dimulai satu jam dari waktu yang dijanjikan. Pertemuan pertama, mungkin masih bingung, mari lupakan saja kesalahan-kesalahan pada hari itu, dari pertemuan inilah saya mengetahui bahwa akhwatnya hanya saya. Saya meminta untuk dicarikan teman akhwat dan mereka menyetujuinya. Deadlinenya  pertemuan kedua, belum ketemu juga, belum ada yang kompeten katanya. Hari ini saya membawa teman saya ini hanya untuk berjaga-jaga.  Sejam berselang, barulah para anggota tim berkumpul dan mulai rapat, tidak lama rapat, adzan berkumandang, pimpinan menghentikan rapat dan akhirnya kami sholat. Setelah sholat, rapat dilanjutkan.

“Bagaimana dengan akhwat yang satunya, sudah ada ?” Tanya saya.

“Baru ditanya satu orang dan beliau belum jawab, jadi belum dicari lagi.” Ujar pimpinan rapat.

“Baik, saya punya waktu 30 menit lagi sebelum pergi, lanjut ke laporan keadaan pemuda saja. Biar saya bisa menjelaskan program-program yang sesuai.” Ucap saya lagi.

“Afwan ukh, ane kemarin kesana belum sempat ketemu ama pemuda-pemudanya. Cuma bicara sama bapak dan ibu basecamp.” Ucap salah satu orang ikhwan dibalik hijab sana.

“Tapi kan harusnya ini jadwal yang dibahas minggu lalu, saya diberi PR buat treatment kan karena kemarin gak ada laporannya ?”

“Afwan, ukh. Agenda yang lainnya bisa ditunda sebentar saja gak. Minta ijin telat dulu diagenda berikutnya. Saya coba hubungi salah satu orang yang sering dengan pemudanya biar kesini.” Ucapnya lagi.

Saya menolak dan pergi sesuai dengan rencana semula. Saya dan teman saya akhirnya berangkat walaupun rapat belum selesai. Entah karena saya baru saja berada di sebuah LSM yang bekerja dengan target waktu, ke sebuah tim yang baru setengah jalan mencari pijakan jalan mereka, saya sangat kecewa dengan manajemen beberapa orang dalam kelompok ini. Tidak mau hanya berpikir secara subjektif, saya bicara dengan murobbi, beliau setuju dengan pendapat saya dan akhirnya memberikan saran untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Sebuah email saya kirim kepada orang-orang tersebut,

                “Kenapa dianjurkan untuk sholat di awal waktu ? Karena waktu-waktu sholat itu adalah pasti dan kita diminta untuk bisa menyesuaikan diri dengan kewajiban itu. Jika ada yang berkata bahwa “Allah suka dengan orang yang menyelesaikan urusan mereka sebelum sholat” bukan berarti mereka diminta untuk menunda sholat tapi diminta untuk mengestimasi kegiatan mereka, kemampuan mereka untuk menyelesaikan, membagi pekerjaan dan menyelesaikannya ketika adzan berkumandang, sehingga ketika sholat tidak ada pikiran yang berkelibat di kepala.

                Ini tidak lain cara Rasulullah mengajarkan kita untuk profesional dalam waktu dan dalam pekerjaan. Ini pernyataan yang saya dengar di sebuah pengajian, kenapa saya mengirimkan email ini mungkin teman-teman juga sudah tau.”

Jawaban email dari ini tidak pernah ada, tapi ada sebuah konsekuensi dari itu semua. Tidak ada lagi ada jadwal rapat yang datang. Ketika saya tanyakan ke ketua community developmentnya sudah ada dua orang akhwat yang mengantikan saya. Sang ketua yang merupakan teman saya di salah satu pengurusan menyatakan bahwa mereka menganggap saya terlalu keras. Saya setengah mengamini setengah tidak terima, tapi sudahlah berdebat kusir pun sia-sia, mereka sudah meminta saya untuk mundur dengan cara mereka.

***

Masjid, di tempat yang dijanjikan.

Gerimis masih turun dan masjid ini sepi. Waktu janjian sudah lewat tiga puluh menitan, karena saya datang lima belas menit sebelum waktu janjian jadi sekitar empat puluh lima menitan saya menuggu. Satu orang membalas, dia dan seorang rekan sedang berada di ujung lain masjid, menunggu ada yang menemani saya baru memulai rapat. Tiga nomor lain saya telpon namun tidak dijawab.  Sejam lewat, opsi untuk menunda rapat oleh orang yang berada di ujung sana dilontarkan, namun berarti itu baru bisa dua minggu lagi karena beberapa alasan, tapi  kasihan juga mereka belum makan karena baru selesai kuliah.

Sms masuk

“Afwan ukh, kami baru mau berangkat, tapi ijin makan sebentar. Tadi hujan jadi tidak bisa keluar”

Apa ?…

***

Nb : Nama-nama yang berkaitan disamarkan, semoga kita masih menjadi pribadi yang selalu ingin belajar dan menjadi lebih baik.

 Sebuah Cerita yang tertolak dari catatan aktivis dakwah kampus

(yovayolanda)

Ankara Sepertinya Kita Berjodoh Part 1

Anatolia: Negeri yg disebut Bilad al-Rum ini adalah salah satu di antara wilayah-wilayah paling baik di dunia; di dalamnya Tuhan telah membawa bersama-sama barang-barang yang baik yang disebarkan ke negeri-negeri lainnya. Penduduknya adalah orang-orang yang paling elok dalam rupa, paling bersih dalam berpakaian, paling nikmat dalam hal makanan, dan yang paling ramah di antara makhluk-makhluk Tuhan.” (Ibnu Battuta, Gb jilid 2, hlm 416)*

Malam ini udara di luar sana 16 derajat Celcius. Besok pagi bisa jadi akan berubah jadi 3 atau 4 derajat. Orang-orang Jogja di suhu segitu pasti akan bilang: “Adhem tenan lik..”. Atau kalau versi Madiunan: “Uaadheme caahh..”, sambil tarik selimut terus kembali tidur. Jelas saja di sini bisa bersuhu segitu, namanya saja sedang masuk musim gugur. Musim gugur itu peralihan antara musim panas dengan musim dingin, jadinya ya angin berhembus-hembus, dedaunan berjatuhan, suhu menurun drastis, dan orang-orang mulai memkai jaketnya. Hah, kok ada musim gugur? Emang aku ada dimana??

Oh iya lupa ngasih tau.. Maap.. Sekarang saya lagi ada di ibukota negaranya Mustafa Kemal Pasha dan Recep Tayyep Erdoğan. Negara dimana ia berdiri di atas dua daratan benua. Negara dimana Selat Bosphorus melintas membelah dua bagiannya. Negara dimana döner dan kebap jadi makanan sehari-hari penduduknya. Nama negara itu adalah: Turki. Ada yang tau apa nama ibukotanya? Yak..kamu yang acungkan jari di belakang sana coba jawab.. Iyaaa kamu, jangan noleh-noleh.. Apa nama ibukota Turki? Istanbul? Boleh, tidak salah tapi kurang tepat. Nah sekarang kamu.. Iya kamu yang pake kacamata.. Apa nama ibukota Turki? Walah, malah geleng-geleng -_-

Jika pembaca budiman mengikuti sejarah penaklukan Konstantinopel (well known as Islambol or Istanbul), pasti akan menjawab Istanbul sebagai ibukota Turki. Nggak salah juga sih, karena Istanbul memang pernah jadi ibukota kesultanan (saya tidak menggunakan diksi ‘kekhalifahan’) Turki Utsmani. Ibukota kesultanan Turki Utsmani sebenarnya berpindah-pindah. Dulu pernah di Bursa (233 km selatan Istanbul), Edirne (237 km barat Istanbul) dan kemudian Istanbul itu sendiri. Namun pasca kesultanan Turki Utsmani runtuh tahun 1924, berdirilah negara Republik Turki dengan ibukota baru bernama…..

“Ankara, jantung daratan Anatolia”

Lho? Jauh amat nyampe Ankara? Ngapain ya aku di kota itu? Hmm..sepertinya baru akan saya ceritakan di part 2. Sekarang kantuk sudah mulai melanda. Saatnya tidur sebelum malam menjadi lebih dingin. Tunggu kelanjutannya ya.. Görüsürüz!

C421, 27 September 2013 jam 22.25
*dikutip dari status Mas Yanuar Agung

dari blog Fauzi Ahmad, Pejuang 07  yang sedang menikmati rencana-rencana Allah di Angkara

Cahaya di Pagi Itu

Wajah putih itu menyembul dari balik selimut kumal berwarna biru langit. Mata sayunya yang sipit khas orang Jepang mengerjap-ngerjap. Seperti biasa, wajah lusuh itu akrab menyapa, mengucap selamat pagi. Sudah berhari-hari kulihatnya tidur di ruangan ini dan baru terbangun saat aku datang membuka ruangan. Berat ia angkat tubuh jangkungnya dari sofa yang entah sudah berapa tahun lamanya teronggrok di sudut ruangan berukuran 8×16 meter ini. Dengan langkah terseret ia berjalan menuju tengah ruangan, ke arah meja besar dengan kertas, karton, gunting, dan juga lem yang terserak di atasnya. Hanya dalam hitungan detik, wajahnya seakan mengeras. Tanpa peduli dengan rambut hitam cepaknya yang masih acak-acakan, ia pun kembali tenggelam dalam pekerjaan yang menyita hidupnya seminggu ini. Ah, lihatlah wajah itu bercahaya…

Tiba-tiba aku teringat akan sebuah kisah tentang Baginda Nabi saw. Pernah suatu ketika Rasulullah saw mencium tangan Sa’ad bin Muadz demi melihat kedua tangan sahabatnya itu kasar karena bekerja keras. “Inilah dua tangan yang dicintai Allah.” Ya, dua tangan yang digunakan untuk menjemput rezeki lebih Allah cintai daripada tangan yang halus karena hanya berpangku tangan.

Di kota kecil tempatku menuntut ilmu ini, tak sedikit dari mereka yang harus membanting tulang untuk biaya sekolah, memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan demi menafkahi keluarga. Mereka yang terpaksa membagi waktu dan tenaga untuk bekerja sembari menempuh studi. Kegigihan yang selalu membuatku kagum. Bukan kagum, lebih tepatnya iri. Bagaimana mereka bisa bertahan? Coba bandingkan dengan diri ini. Datang untuk menuntut ilmu di Toyohashi, kota kecil di sebuah negeri yang makmur bernama Jepang, tanpa kendala yang berarti. Dengan beasiswa yang cukup, tak perlulah aku pusing soal finansial. Kerja sampingan? Ah, buat apa? Tak ada yang perlu dipusingkan selain studi. Tapi, bagaimana dengan keseriusanku? Sudahkah bekerja keras seperti yang seharusnya? Main-main… jalan-jalan… kuliner… itu saja kan kerjaanku? Tak malukah pada mereka?

Lihatlah mereka yang selalu bekerja keras. Gigih dan pantang menyerah. Tak mengenal keluh dan kesah. Tidakkah kau lihat cahaya pada wajah mereka? Ya, cahaya yang senantiasa memancarkan kehangatan. Cahaya yang akan terus menerangi hidup mereka.

Jadi?

NB: Kepada orang-orang yang bekerja keras, terima kasih atas semangat dan inspirasinya! Terus dan teruslah bekerja… dan tetaplah bercahaya!

Toyohashi, Jumat 9 Januari 2015

Renungan dari Pejuang 07 yang saat ini sedang menikmati liburan musim dingin di Jepang, Meidwinna Saptoadi

Serba Serbi Kuliah di Arab

Dunia mengenal Arab Saudi sebagai pusat peradaban Islam. Sejarah-sejarah Peradaban Islam banyak ditemukan di Bumi Arab. Termasuk juga kiblat umat muslim di seluruh Dunia ada di sini. Masjidil Haram sebagai masjid terbesar di dunia juga ada di Arab. Hal ini menjadikan Arab Saudi sebagai Negara tujuan bagi umat muslim di seluruh dunia untuk belajar tentang Islam.

Indonesia merupakan Negara dengan jumlah muslim terbesar di Dunia. Sehingga, masyarakat Indonesia juga tentu memiliki keinginan besar untuk bisa beribadah di Arab Saudi. Baik untuk ibadah umroh, maupun melaksanakan rukun Islam yaitu melaksanakan ibadah Haji. Akan tetapi, Arab mungkin bukanlah Negara favorit bagi mahasiswa Indonesia yang ingin belajar tentang sains dan teknologi. Bahkan banyak yang mengira bahwa kuliah di Arab hanya untuk belajar agama. Sedikit sekali yang menyangka bahwa di Arab ini juga ada kuliah untuk jurusan sains dan teknologi. Pandangan tersebut tidak juga salah karena  ulama-ulama besar Dunia pun sebagian besar berasal dari Arab Saudi.

Memilih kuliah sains di Arab Saudi bukanlah tanpa pemikiran yang mendalam. Walaupun perkembangan ilmu sains di sini tidak semaju seperti di amerika atau eropa, tapi sebagai seorang muslim, kuliah di Arab Saudi merupakan impian terbesar saya. Salah satu yang menjadi pertimbangan utama adalah kita akan sangat dekat dengan tanah suci. Ibadah umroh dan Haji yang banyak diimpikan oleh masyarakat Indonesia akan bisa kita kerjakan sesering mungkin tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar. Kita akan memiliki kesempatan melakukan ziarah ke tempat-tempat bersejarah pada zaman Rasulullah.

Selain itu, saya juga memiliki keinginan besar untuk bisa belajar agama lebih baik lagi dan belajar untuk menggunakan bahasa Arab. Walaupun bahasa pengantar perkuliahan di sini menggunakan bahasa Inggris, tapi lingkungan Arab akan lebih membantu kita untuk bisa menguasai bahasa Arab. Dengan menguasai bahasa Arab, tentu kita akan lebih mudah memahami isi kandungan Al-Qur’an dan mempelajari kitab-kitab para ulama yang sebagian besar berbahasa Arab.

Walaupun bukan menjadi tujuan utama belajar sains, bukan berarti kualitas universitas di Arab buruk. Buktinya, King Fahd University of Petroleum & Minerals (KFUPM), tempat saya belajar saat ini juga bisa masuk peringkat 200 dunia. Lebih tinggi dari semua universitas di Indonesia.

Mungkin banyak juga yang bertanya, bagaimana caranya bisa kuliah di Arab Saudi? Apakah harus menguasai bahasa arab? Ataukah harus hafal beberapa juz Al-Qur’an?

 Proses Pendaftaran

Kerajaan Arab Saudi begitu perhatian sama pendidikan dan kesejahteraan warganya. Hampir semua sekolah negeri di Arab Saudi gratis di semua jenjang pendidikan, bahkan semua siswa diberikan sejumlah uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jadi, orang tua tidak perlu lagi pusing memikirkan bagaimana mengatasi biaya pendidikan anaknya, karena semua sudah ditanggung oleh Negara. Tidak mengherankan, karena di Arab Saudi, terdapat produksi minyak mentah terbesar di Dunia.

Nah, kampus tempat saya kuliah sekarang juga termasuk kampus yang masuk dalam pembiayaan kerajaan Arab Saudi. Sehingga, semua biaya perkuliahan hingga kebutuhan mahasiswa di sini sudah ditanggung oleh kerajaan Arab Saudi. Jadi, saya tidak mengajukan beasiswa tertentu untuk bisa kuliah di sini, karena yang terpenting adalah kita bisa terdaftar sebagai mahasiswa di sini dan kemudian secara otomatis bisa menikmati pendidikan gratis dari kerajaan Arab Saudi.

Apa saja syarat untuk bisa kuliah di Arab Saudi? Masing-masing kampus tentu memiliki standar yang berbeda-beda. Sebagai kampus yang fokus dalam ilmu sains dan teknologi, KFUPM tidak mewajibkan mahasiswa bisa berbahasa Arab apalagi harus menghafal Al-Qur’an. Pengantar perkuliahan di KFUPM berbahasa Inggris. Sehingga faktor utama yang menentukan bisa diterima di KFUPM adalah kemampuan berbahasa Inggris yang ditunjukkan dengan nilai TOEFL atau IELTS. Bagi saya ini bagian yang paling berat, karena butuh waktu setahun lebih untuk mempersiapkan bahasa Inggris.

Faktor penting lainnya adalah adanya rekomendasi dari professor ataupun dosen yang ahli dalam jurusan yang kita lamar. Calon mahasiswa diminta untuk memberikan 3 orang rekomender untuk bisa kuliah di KFUPM. Semua proses pendaftaran dilakukan secara online dan semua gratis. Berkas-berkas lainnya saya pikir hanya sebagai tambahan saja seperti ijazah, transkrip nilai, dan identitas lainnya. Cukup sederhana bukan?

 

Adaptasi Perkuliahan di Arab

Sebagian besar mahasiswa master atau doctor di KFUPM berasal dari luar Arab. Jarang sekali warga Arab yang melanjutkan kuliahnya di dalam negeri. Warga Arab Saudi yang memiliki keinginan melanjutkan kuliah ke jenjang master atau doctor akan dibiayai oleh kerajaan untuk kuliah di Amerika atau Eropa. Sehingga, untuk Graduate Studies, mahasiswa didominasi oleh Warga Nigeria dan Negara muslim afrika lainnya, baru kemudian disusul warga India, Pakistan, Bangladesh. Mahasiswa Indonesia yang kuliah di KFUPM hanya berjumlah 26 orang untuk jenjang master dan doctor.

Masa-masa awal perkuliahan tentu saja kita harus belajar beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan teman-teman yang berasal dari berbagai Negara. Saya tiba di Arab di akhir musim panas, sehingga masih sedikit merasakan musim panas di Arab yang saat itu mencapai 43ºC. Walaupun bukan di puncak musim panas, tapi untuk ukuran masyarakat Indonesia, suhu setinggi itu sudah terasa sangat panas. Konon, puncak musim panas di sini bisa mencapai 55ºC.

Semua aktivitas perkuliahan dalam bahasa Inggris. Cukup sulit beradaptasi di awal, karena sebelumnya saya hampir tidak pernah sama sekali mengikuti perkuliahan dalam bahasa Inggris. Di Indonesia, mungkin hanya buku literatur saja yang berbahasa Inggris. Sehingga, saya harus belajar sendiri di kamar untuk mengulang semua materi yang diberikan di kelas.

Mungkin yang sedikit berbeda dari masa kuliah sarjana adalah kita diwajibkan membuat paper untuk tiap mata kuliah dalam 1 semester. Membuat paper berbahasa Inggris dalam rentang waktu 1 bulan begitu berat buat saya. Tapi itulah tantangannya. Saya mulai menikmati kehidupan perkuliahan di sini. Semoga bisa mendapatkan lebih banyak ilmu di tanah Arab ini.

Fasilitas Kampus

Kami tinggal di sebuah asrama yang terletak di dalam kampus. Sehingga dari asrama ke lokasi perkuliahan dapat ditempuh dengan 15 menit jalan kaki. Kampus juga menyediakan fasilitas bus kampus yang bisa kita gunakan sebagai transportasi di dalam kampus. Akan tetapi, karena jadwal perkuliahan mahasiswa master sebagian besar di malam hari, sehingga jarang sekali kita bisa menikmati bus kampus untuk kuliah karena jam operasi bus kampus berakhir pukul 5 pm.

Selain gratis biaya kuliah, semua mahasiswa juga akan diberikan fasilitas buku gratis sesuai dengan matakuliah yang sedang di ambil. Buku-buku yang dibagikan pun merupakan buku cetakan asli yang harganya mencapai jutaan rupiah. Selain itu, mahasiswa juga bisa meminjam maksimal 10 buku diperpustakaan kampus dengan batas waktu 6 bulan. Jadi, begitu selesai mendaftarkan mata kuliah, kita harus segera berburu buku di perpustakaan. Karena jika telat, maka koleksi buku terbaiknya akan habis dipinjam oleh mahasiswa lainnya.

Untuk urusan makanan, kampus juga memberikan subsidi kepada mahasiswa. Artinya, jika di luar kampus kita bisa menghabiskan 20 riyal untuk sekali makan, di dalam kampus kita cukup mengeluarkan uang 4 riyal dengan menu yang sama. Sangat membantu bagi mahasiswa yang sudah berkeluarga seperti saya, sehingga bisa mengirimkan setengah dari student stipend yang kami terima setiap bulannya. Tapi, siap-siap saja bosan dengan menu masakan yang hampir sama setiap harinya. Sehingga, terkadang kami siasati melawan kebosanan dengan masak masakan Indonesia di kamar masing-masing.

Selain fasilitas di dalam kampus, mahasiswa juga diberikan fasilitas refreshing setiap akhir pekan. Kampus menyediakan bus gratis untuk mahasiswa yang akan menikmati akhir pekan di pantai ataupun pusat perbelanjaan. Hanya saja dibatasi dalam waktu 4 jam. Bagi mahasiswa yang lebih dari 4 jam, maka harus pulang sendiri ke kampus dengan menggunakan taxi karena tidak ada transportasi publik lainnya selain taxi.

Bagi saya, semua fasilitas ini sudah cukup untuk menunjang aktivitas perkuliahan. Kita hanya butuh fokus untuk belajar dan memahami semua matakuliah yang diberikan. Tidak ada yang tidak mungkin untuk mengejar sebuah impian. Dulu, mungkin saya tidak pernah berpikiran untuk bisa kuliah ke luar negeri, tapi begitu ada tekad, maka insya Allah akan ada jalan untuk meraihnya. Maju terus untuk Pendidikan Indonesia.

( Tulisan  Ayah Tercinta dari si kecil El, Irwan Rizadi. Pejuang 07 yang sedang menempuh kehidupan kuliah di tempat yang baru. Semangat Ayahnya El)

Puzzle

Dia letakan potongan puzzle terakhir. Gambar dalam bidang persegi yang terdiri dari ratusan potongan puzzle itu telah terbentang dengan jelas dihadapannya. Ia tampak menghela nafas lalu melirik keluar jendela kamar.
XXX
Bukankah kehidupan serupa potongan puzzle. Setiap orang dan kejadian merangkai hidupnya menjadi sebuah gambaran utuh. Ada potongan yang jelas dengan pola atau gambar yang begitu kentara. Potongan ini membantumu dengan segera menemukan arti dan makna hidupmu. Potongan lain hanya berupa gradasi warna atau potongan satu warna. Penyusun puzzle biasanya merasa frustasi atas potongan ini. Bongkar dan pasang hingga ditemukan bentuk dan pola serasi. Serupa dengan potongan kisah hidupmu yang brwarna merah jambu, merah, biru atau hitam. Saat ini kehidupannya seperti itu, stagnan. Tidak ada jalan keluar menurutnya. Kehidupan menahannya pada posisi ini dan dia tidak memiliki daya untuk melakukan sesuatu. Segala kejadian hidup berbalik menyerang dalam kesepian hatinya. Ruang itu ramai tapi hatinya sendiri.
XXX
Semua duka disembunyikannya dalam topeng ceria. Dia merasa tidak berkawan. Itu menjadi keyakinannya. Keyakinan yang mendorongnya semakin jauh dalam lorong sepi perjalanan. Ibu yang menjadi tumpuan dalam dua puluh lima tahun hidupnya telah berpulang ke Pencipta beberapa bulan yang lalu. Kepergian itu merenggut semua kebahagiaan dalam hidupnya. Air mata menemani hari-harinya sebagai penganti senyum dan pelukan hangat sang ibu.
Ibu merupakan keluarga satu-satunya setelah laki-laki yang dipanggilnya ayah meninggalkan mereka berdua sejak ia masih berumur belia. Terkadang dia mampu mengingat cuplikan-cuplikan kehidupan masa kecilnya tentang sang ayah. Potongan-potongan puzzle masa kecilnya yang begitu saja terpisah dari kejadian masa kininya. Potongan itu tampak semakin pudar saat dia beranjak dewasa. Ibunya yang sering bercerita mengenai sang ayah mengenai kebaikan sang ayah, wajah rupawan yang diwariskan sang ayah kepadanya, kerja keras disertai berbagai alasan yang diciptakan ibunya mengenai kepergian sang ayah.
Alasan yang tidak pernah diketahui kebenarannya bahkan sampai kepergian ibu ke alam baka. Inti ceritanya sama sebenarnya. Ibu menyatakan diri sebagai penyebab kepergian sang ayah. Ketidaksabaran, rupa ibu yang tidak cantik serta nasib buruk yang mengikuti setiap langkah dalam hidupnya. Dia tanam semua cerita ibu di dalam pikirannya. Suatu ketika nanti, saat umur dewasa telah memeluk jiwa dan merubah raganya, ia berencana menanyakan semua cerita sang ibu. Rencana itu tidak pernah terjadi bahkan sampai perginya sang ibu dalam tidur lelapnya. Ia tidak pernah memiliki kekuatan untuk bertanya kepada ibu yang menyambutnya pulang dengan senyuman. Rasa penasaran yang kerap menghilang ketika melihat kerut wajah dan rambut putih sang ibu. Hatinya selalu berkata nanti… nanti… lalu nanti itu melebur dalam abadi. Nanti itu kini terkubur dengan jasad ibu di pemakaman. Saat ini dia yakin bahwa dirinya yang menjadi penyebab ayah meninggalkan mereka berdua.
Ia membongkar satu per satu potongan puzzle yang telah beberapa hari ini disusunnya dalam diam di pojokan dekat jendela itu. Prosesi ini akan diulang olehnya, pasang, selesai lalu bongkar.
XXX
Aku datang dan duduk dihadapannya. Ia sama sekali tidak terusik dengan kehadiranku. Tangannya sibuk memutar-mutar potongan puzzle dihadapannya. Puzzle yang dibongkarnya kemarin sore, pagi ini telah setengahnya selesai. Dia meletakkan potongan ditangannya pada ruang kosong di landasan puzzle tersebut lalu mengambil potongan lain. Potongan tadi belum mempunyai potongan lainnya. Ia mengambil potongan lainnya, menyusuri satu per satu potongan puzzle yang diletakkannya di sebuah kotak kecil yang terbuat dari karton. Ia mengambil satu lalu meletakkannya di pojokan puzzle itu.
Pertemuan kami hampir selalu seperti ini. Tidak banyak bicara hanya saling menemani atau kalau boleh dibilang aku yang merasa menemani dirinya. Pria yang berada dihadapanku entah merasa atau tidak mengenai keberadaaanku. Awal pertemuan kami lebih kikuk ini malah sempat terjadi perselisihan antara kami berdua. Dia memasang batas yang jelas mengenai puzzle yang dia mainkan. Tidak ada yang boleh menyentuh puzzlenya dan aku melanggar batas itu. Ia membongkar kembali puzzle yang dibuatnya waktu itu. Ia pun berjaga-jaga ketika aku datang kembali esok harinya. Ia mengatur meja dan kursi pojok ruangannya menghadap jendela. Mentari sore yang menyapa wajah melalui sela-sela jeruji jendela diacuhkannya. Bulir-bulir keringat karena panas sinar matahari juga tidak dipedulikannya.
Aku menungguinya untuk membuka kembali batas itu, mengijinkan aku masuk dan menemani diamnya. Aku dalam kebingungan yang nyata hanya menunggu, duduk dengan membelakangi dinding di sebelah puzzlenya. Diam, tidak ada gerakan mendadak maupun suara yang menganggu dirinya. Menunggu dia yang akhirnya membuka diri kembali lalu meletakkan meja dan kursi pojok ruangannya ke posisi semula, kursiku pun disiapkannya di seberang meja berhadapan langsung dengannya. Semenjak itu pertemuan sunyi kami terjalin. Tidak ada kata-kata yang terucap dariku maupun darinya. Pembicaraan terkadang kami jalin ketika ia lelah dan memandang keluar jendela. Kubiarkan ia berbicara menumpahkan semua rasa yang selama ini dia simpan di dada.
XXX
“Bagaimana kondisi Sigit, Bu” tanya wanita paruh baya itu.
Aku mengenali matanya di dalam mata wanita paruh baya ini. Mata pria puzzle di meja dan kursi pojok ruangan sana. Wanita paruh baya yang dipikiran pria itu sudah tiada. Aku memandangi gurat wajah tua wanita itu. Semua hal yang ku ketahui tentang pria puzzle berasal dari wanita ini. Ibu yang dimakan kerasnya kehidupan. Ibu yang menjual harga diri dan tubuhnya sehingga anak semata wayang yang ia sayangi mampu melanjutkan kehidupan. Kerasnya kehidupan yang membuatnya keras kepada anaknya tersebut. Kehidupan mengantarkan dirinya pada titik nadir hidup hingga ia menghentikan pekerjaannya itu dan berusaha memperbaiki hidup mereka dengan kembali ke kampung halaman sang ibu. Tidak ada satu pun orang di kampung mereka yang paham mengenai ayah dari anak yang ibu itu bawa dari kota. Semua berjalan seperti biasa hingga anak itu tumbuh dewasa dan mengalami kesulitan-kesulitan dalam hidupnya. Kekasih yang menikah dengan orang lain, mengalami fitnah oleh teman sekerja lalu diberhentikan. Anaknya yang cerdas namun bernasib malang. Ibu ini menyalahkan karma karena pekerjaannya dulu tidak halal sehingga berdampak buruk kepada anaknya. Anaknya, yang tidak tahan dengan semua itu, berusaha mengakhiri dirinya. Ibu yang berusaha menghentikan usaha tersebut akhirnya terluka parah karena pisau yang digenggam oleh sang anak. Ibu yang bersimbah darah itu seakan mengantarkan sang anak pada dunia yang menjebak dan mengurungnya dalam dunia khayal yang tidak bertepi.
Tatapan ibu yang penuh harap itu hanya bisa kujawab dengan senyuman dan genggaman tangan berusaha menenangkan rasa cemas dan kekalutan pikirannya. Aku paham betul rasa bersalah ibu yang menyalahkan diri atas segala yang terjadi pada diri anaknya. Ini akibat pekerjaan haramnya dulu, pikiran ini selalu menjadi inti pembicaraan sang ibu. Air mata selalu hadir di setiap sesi kami. Sesi yang kami susun sebelum ibu bertemu dengan anaknya. Sesi agar ibu memahami kondisi anaknya yang mengalami gangguan jiwa karena sang anak tidak dapat mengendalikan semua tekanan yang menghantamnya secara beruntun. Pengulangan mengenai suara-suara yang hanya bisa di dengar sang anak, puzzle yang dipercaya sang anak, bila ia selesaikan dengan benar, maka ia akan menguak rahasia semesta. Kondisi sang anak yang percaya bahwa semua orang berusaha mencelakakannya. Sebuah gangguan skizofrenia paranoid yang terdengar asing di telinga khalayak umum sana.
Sesi berulang kami juga sebagai penguat untuk seorang ibu yang hatinya runtuh ketika sang anak tidak bisa mengenali wajahnya dan harus memperkenalkan diri sebagai budhe tetangga.
“Mbak dokter, Sigit bisa sembuh ya, mbak?!”. Ibu ini sering kali memanggilku “Mbak Dokter” sesering aku menjelaskan profesi psikologku dan memintanya memanggil namaku saja.
“Dido’akan saja, Bu”, jawabku
Pertanyaan sembuh ini tidak pernah absen dari mulut sang ibu setiap kami menyusuri jalan dari tempat praktekku ke bangsal tempat pria puzzle itu berada. Penjelasan mengenai pengobatan untuk penderita gangguan sudah pernah kujelaskan. Pengobatan teratur, olah raga, terapi perilaku, aktivitas berguna dan dukungan sosial sesuai dengan standar yang kupelajari telah kusampaikan kepada sang ibu. Sembuh sosial, dimana klien mampu berinteraksi dengan normal, yang menjadi tujuan terapi kami pun telah kujabarkan. Semua penjelasan tersebut tidak pernah bisa membuat sang ibu puas namun kata-kata do’a selalu memberikan kekuatan sang ibu untuk menuju bangsal tempat anaknya berada.
Sang ibu kutinggalkan di ruang tunggu dan aku mendekati si pria puzzle. Aku duduk di depannya dan mengajaknya bicara sebentar. Puzzle dihadapannya sudah selesai lagi disusunnya hingga memenuhi landasan. Dia berdiri ketika ku minta untuk ke ruang tunggu bangsal. Aku mengikuti pria puzzle tersebut. Ku lirik puzzle yang seharusnya bergambar tiga anak kucing di dalam keranjang. Gambar itu tidak pernah terbentuk di atas landasan puzzle. Hanya ada potongan-potongan puzzle yang memenuhi landasan tersebut. Beberapa potongan tampak disambung secara paksa, tidak ada pola yang dapat dikenali, warna yang terhubung, tidak ada suatu paduan yang dapat menjelaskan puzzle itu bergambar apa. Mungkin sama dengan pikirannya, berusaha sekuat tenaga menjelaskan potongan-potongan hidupnya di sela keributan suara yang memenuhi telinganya dan ancaman yang terasa mengusik hidupnya. Ku mengalihkan pandanganku kepada Sigit, pria puzzle itu. Ia memandang ke arah yang sama, puzzlenya, rahasia alam semesta yang akan mengakhiri penderitaannya. Aku melirik puzzle itu kembali sebelum menarik nafas panjang.
“Yuk… ketemu budhe…”

NB : Sebuah ikhtiar menyederhanakan penjelasan mengenai kerja psikolog dan gangguan mental. Ketika semua orang menyatakan kesejahteraan bagi semua maka teman-teman kami penyandang gangguan jiwa hampir tidak mengenal kata tersebut. Teriring sayang dan salut kepada pengerak dan anggota Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia.

*cerpen 16 besar SME*

(yovayolanda)